Dia Dan Mimpi

Karangan: Wiwin Anjelini Mungkur

"Hei kamu ngelanjut SMA mana? Kuliah?"

Tiba-tiba kamu menanyakan itu padaku. Dengan semangat aku langsung menjawab dengan menyebutkan SMA dan Universitas terbaik dunia. "jangan kebanyakan mimpi, itu yang kamu sebut, bukan sekolah sembarangan! Dan ingat mimpi ketinggian, jatuhnya sakit loh."

"siapa yang mimpi? Aku akan berusaha sekuat mungkin untuk masuk ke sekolah itu."

"Aku itu ngasih tahu ke kamu, jangan berharap hal yang tak mungkin, setiap orang itu punya batasan sebesar apa ia boleh bermimpi, kita ini hanya orang biasa, enggak punya ilmu sebanyak mereka-mereka."

"Ihh kamu apaan sih. Bukannya ngaminin ehh malah buat down."

Aku pun langsung meninggalkannya karena kesal padanya dan tak menghiraukannya yang memanggil-manggilku.

Tamat SMP.

Kini ku berada di tempat yang benar-benar tidak pernah terpikirkan olehku sebelumnya. Dan dia berada di tempat yang sangat sulit untuk ku jangkau. Dan aku baru menyadari arti dari kata-katanya. Kita tidak boleh terlalu berharap pada mimpi-mimpi yang jelas tidak akan terwujud bagaimana pun caranya untuk meraihnya. Kita harus menyadari posisi kita. Dia saja yang sudah sempurna tidak mau memimpikan hal-hal itu.

Semua mimpiku sirna. Dia yang ku cintai selama lebih tiga tahun ini, telah pergi. Sekarang ia berada di tempatnya yang seharusnya. Dan ini semakin menyadarkanku tidak boleh bermimpi terlalu tinggi. Mimpiku untuk bersamanya tak terwujud. Dia yang biasanya selalu menggenggam tanganku di saatku ketakutan, dia yang selalu memberi kenyamanan, dia yang selalu membuatku tersenyum, dia yang selalu mencemaskanku, dia yang selalu menyemangatiku, dia yang mengajarkanku untuk bersikap dewasa. Kini telah pergi. Karena dia hanyalah sebagian mimpiku yang tak dapat ku raih, dia terlalu sempurna untukku miliki.

Dan bahkan Tuhan sudah sangat baik, karena telah mewujudkan mimpiku walaupun hanya sepenggal saja. Walaupun yang aku inginkan adalah berada di sisinya sampai akhir hidupku. Tapi itu sudah cukup. Pernah mengenalnya saja sudah sangat membahagiakan. Aku tak boleh menjadi orang yang serakah. Serakah untuk menggapai mimpiku untuk memilikimu. Dan kamu! Semua yang kamu katakan memang benar. Terlalu sakit karena tidak dapat meraih mimpi yang terlalu tinggi.

Aku memang yang bodoh tidak mempercayai perkataanmu dan bahkan aku marah saat kamu mengatakannya waktu itu. Dan mulai sekarang aku tak akan bermimpi terlalu tinggi, karena ketika jatuh kamu sudah tak ada lagi untuk melindungiku. Walaupun begitu aku tetap mencintaimu dulu, kini, dan selamanya.